
“Berpengetahuan, Lembut Hatinya”: Misi MA NU Tengguli Lewat Kurikulum Berbasis Cinta
JEPARA – Suasana Laboratorium Komputer MA NU Tengguli tampak berbeda pada Sabtu pagi (10/1/2026). Seluruh tenaga pendidik dan karyawan berkumpul bukan sekadar untuk urusan administrasi, melainkan untuk mendalami filosofi “Kurikulum Berbasis Cinta” (KBC).
Langkah ini merupakan komitmen nyata MA NU Tengguli dalam menjawab tantangan pendidikan modern yang tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual, tetapi juga ketajaman spiritual dan emosional.

Menjawab Keresahan Pendidikan Berbasis Angka
H. Musta’in, S.Ag, M.Pd.I, Pengawas dari Kemenag Kabupaten Jepara yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa KBC merupakan gagasan yang diluncurkan oleh Menag Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar pada 2025. Kurikulum ini hadir sebagai jawaban atas keresahan dunia pendidikan yang selama ini dinilai terlalu fokus pada angka dan nilai teknis.
“Pengetahuan teknis bisa dicari di internet dalam hitungan detik. Namun, tata nilai seperti integritas dan empati harus ditanamkan melalui proses belajar yang mendalam dan penuh kasih sayang,” ungkap H. Musta’in di hadapan para guru.
Mengenal Konsep Panca Cinta
Dalam materinya, H. Musta’in memperkenalkan konsep Panca Cinta yang menjadi pilar utama dalam metode “Pembelajaran Mendalam”. Kelima poin tersebut meliputi:
- Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
- Cinta kepada Ilmu Pengetahuan
- Cinta kepada Diri Sendiri dan Sesama
- Cinta kepada Alam dan Lingkungan
- Cinta kepada Bangsa dan Tanah Air
Peningkatan Mutu Melalui Akreditasi dan Karakter
Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Madrasah MA NU Tengguli, Bapak Son Hadi, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk membedah instrumen akreditasi secara aplikatif guna meningkatkan mutu madrasah secara berkelanjutan.
“Kita ingin membangun budaya madrasah di mana Kurikulum Berbasis Cinta terimplementasi dalam setiap aktivitas pembelajaran. Tujuannya agar tercipta pembelajaran yang benar-benar berpusat pada peserta didik,” ujar Son Hadi.
Dengan memadukan standar akreditasi dan praktik KBC, MA NU Tengguli optimis dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki karakter yang mulia. Momentum ini diharapkan menjadi titik balik bagi para guru untuk terus berinovasi dalam mendidik dengan hati.
